Gampang Capek Seiring Bertambah Usia? Mungkin “Baterai” Sel Tubuhmu Mulai Soak

LeBron James kabarnya menghabiskan dana melebihi 20 miliar rupiah per tahunnya, bukan untuk gaya hidup atau hunian elite, melainkan untuk merawat satu hal: cadangan stamina dalam fisiknya. Dia rutin memakai terapi oksigen hiperbarik, menerapkan diet super ketat, serta mengatur waktu istirahat lewat pelacak. Bagaimana hasilnya? Saat umurnya hampir menyentuh 40 tahun, dirinya tetap sangat prima dan dapat bersaing dengan atlet yang jauh lebih muda dari dia. 

Mari kita bandingkan dengan rutinitas kebanyakan orang. Saat usia kita masih 20an, mungkin kita masih semangat – semangatnya. Bekerja hingga malam, latihan fisik, dan masih semangat esok harinya. Semuanya terlihat mudah. Akan tetapi, begitu menginjak usia 30-an atau 40-an, sekadar menapaki dua anak tangga saja terasa berat. Serta saat menginjak pukul 3 sore, ada sesuatu yang seperti menyedot seluruh energi dari dalam tubuh 

Banyak yang menyalahkan stres kerja atau kurang olahraga. Tapi masalah sesungguhnya jauh lebih detail di banding itu. 

Di hamper setiap sel dalam tubuh kita, terdapat organel yang bernama mitokondria. Tugasnya sangat krusial. Mitokondira adalah sumber tenaga utama di dalam sel, dengan membakar bahan bakar dari makanan dan mengubahnya menjadi energi. Energi yang dihasilkan tersebut adalah ATP. Tanpa ATP yang cukup, fungsi biologis tubuh kita tidak akan dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya.

Saat kita masih muda, mitokondira bekerja dengan sangat efisien. Namun, seiring kita menua, dan terlebih lagi didukung oleh gaya hidup yang kurang baik, mesin pembangkit ini akan menjadi aus.  Produksi ATP dapat menurun drastis. Itulah mengapa basal energy Anda terasa anjlok: bukan karena Anda malas, tetapi karena pembangkit listrik seluler Anda memang memproduksi lebih sedikit daya.

Bahayanya adalah, mitokondria yang aus ini juga “bocor”. Pembakaran yang tidak sempurna akan menghasilkan limbah beracun yang bernama ROS (Reactive Oxygen Species). ROS adalah radikal bebas yang dapat merusak struktur DNA yang akhirnya juga dapat merusak jaringan tubuh. Inilah makanya kita saat tambah tua mulai merasa lebih sering nyeri lutut , kulit yang makin kusam, dan waktu pemulihan setelah olahraga yang makin lama.

Dalam longevity medicine, kondisi ini disebut Mitochondrial Dysfunction, dan ini bukan sekadar kelelahan biasa. 

Jurnal Cell (López-Otín et al., 2023) menetapkan Mitochondrial Dysfunction sebagai satu dari 12 hallmarks of aging, penanda biologis utama penuaan manusia. Jurnal tersebut juga menegaskan bahwa ternyata kerusakan disfungsi mitokondira bukan proses satu arah, jadi dapat diperbaiki. Kuncinya adalah dengan memicu mitofagi, yaitu kemampuan alami tubuh untuk mendaur ulang mitokondria yang rusak. 

Tiga intervensi berikut terbukti secara klinis memicu proses tersebut:

Sebuah penelitian (Mahatme, S. et al. 2022) membuktikan bahwa kelompok orang yang menjalani HIIT, atau latihan interval dengan intensitas tinggi, ternyata mengalami peningkatan kapasitas produksi energi mitokondria. Bukan karena otot mereka lebih besar, tapi karena tubuh merespons tekanan intens itu dengan mendaur ulang mitokondria lama dan memproduksi yang baru dan lebih efisien.

Ozcan et al (2024) dalam Ageing Research Reviews membuktikan bahwa saat tubuh ternyata dapat memicu mitofagi (regenerasi mitokondria) saat tidak menerima kalori selama belasan jam (berpuasa). Ternyata Intermittent fasting bukan sekadar tren diet, tetapi juga benar – benar bermanfaat bagi tubuh anda.  

Mitokondria di otak bekerja paling keras dan menghasilkan ROS paling banyak. Sehingga fase deep sleep akan dapat mengistirahatkan mitokondria dan melakukan pemulihan, sehingga radikal bebas tersebut tidak menumpuk terlalu banyak di esok harinya. 

LeBron bukan menghabiskan miliaran rupiah uangnya untuk sekadar terlihat muda. Ia menginvestasikannya untuk menjaga agar pabrik energi di sel-selnya terus bekerja di kapasitas penuh, karena ia tahu, begitu mitokondria mulai bocor dan ROS mulai menumpuk, tidak ada jumlah kopi yang bisa menggantinya.

Tiga pertanyaan untuk hari ini:

Baterai tubuh memang dirancang untuk menurun seiring waktu. Tetapi kecepatan penurunannya, jelas kendali tersebut ada di tangan anda. 

Penurunan fungsi mitokondria yang membuat tubuh gampang lelah ini sebenarnya berkaitan erat dengan satu molekul penting: NAD+. Saat usia bertambah, kadar NAD+ di dalam tubuh menurun drastis. Akibatnya, mitokondria kesulitan memproduksi energi yang cukup, membuat proses pemulihan sel melambat, dan rasa lelah pun datang lebih cepat setiap harinya.

Mengembalikan kapasitas produksi energi sering kali membutuhkan lebih dari sekadar perbaikan gaya hidup. Dibutuhkan evaluasi klinis untuk mengetahui kondisi seluler Anda yang sebenarnya, serta intervensi medis presisi seperti terapi pengisian NAD+ untuk memperbaiki akar masalahnya. Previ Longevity akan hadir di Ageless Festival 2026 pada tanggal 13-14 Juni 2026 di Pondok Indah Mall 3, Jakarta, untuk mengupas lebih dalam tentang regenerative wellness dan cara medis memulihkan kelelahan kronis langsung di tingkat sel.

Jika Anda ingin berhenti menebak-nebak penyebab turunnya stamina Anda belakangan ini, mari berdiskusi langsung dengan tim medis Previ Longevity di Ageless Festival 2026. Temukan langkah-langkah yang tepat untuk merawat mitokondria Anda.