“Satu Tes untuk Semua” Adalah Mitos
Seorang pasien datang ke ruang konsultasi membawa map tebal berisi 50 halaman hasil tes DNA yang baru saja ia lakukan, entah dimana. Ia meletakkannya di meja dan bertanya dengan antusias: “Dokter, dengan tes genetik semahal ini, hasilnya gimana dok, apakah saya menua lebih cepat? Diet saya bulan lalu kira – kira sudah berhasil atau ngga ya dok”
Dokter terdiam sejenak, lalu menjawab: “Bu maaf sekali, hasil tes sebanyak ini tidak bisa menjawab satu pun dari petanyaan ibu”
Tes DNA dasar tidak melihat kondisi tubuh Anda hari ini. Ia hanya membaca warisan genetik yang sudah ada sejak Anda lahir dan tidak akan berubah sampai Anda meninggal.
Ini bukan salah pasiennya. Ini terjadi karena pemasaran yang menyamakan semua jenis tes genetik seolah – olah ada satu tes sakti yang dapat menjawab semua pertanyaan. Padahal, ada dua jenis tes genetik yang bekerja dengan sangat berbeda, untuk pertanyaan yang berbeda juga. Jika keliru, kita hanya akan buang – buang uang.
Hard Drive vs Software: Dua Alat, Dua Fungsi
Tes DNA Dasar adalah tes untuk memeriksa perangkat keras anda, yaitu DNA anda sendiri. DNA ini merupakan cetak biru yang Anda warisi dari orang tua dan tidak akan pernah berubah. Jika Anda melakukan tes ini di usia 5 tahun atau 80 tahun, hasilnya akan identik. Tes DN dapat memetkana potensi dan kerentanan penyakit bawaan, dan cukup dilakukan satu kali seumur hidup.
Tes Usia Biologis (Epigenetik) adalah tes untuk menilai epigenetik di sel anda. Epigenetik itu seperti sistem operasi di atas perangkat keras. Ia tidak membaca kode genetik yang statis, tapi membaca bagaimana gaya hidup Anda mengubah cara gen bekerja. Pemeriksaannya dilakukan dengan cara mendeteksi penanda yang disebut metilasi DNA. Gaya hidup anda terekam disini, apakah anda kurang tidur, sering stress, pola makan buruk, olahraga atau tidak, dan masih banyak lagi. Inilah tes yang harus dilakukan secara berkala, misalnya setahun sekali, untuk memantau apakah tubuh Anda secara biologis menua lebih cepat atau lebih lambat dari usia kalender.
Kedua tes ini bukan saingan, tetapi saling melengkapi. Keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda dan keduanya dibutuhkan untuk menggambarkan kondisi tubuh anda secara komprehensif.
Inilah mengapa skenario pasien di awal tadi berakhir dengan tidak enak. Ia membeli alat yang menjawab pertanyaan tentang masa depan genetiknya, tetapi menggunakannya untuk menjawab pertanyaan tentang kondisi tubuhnya hari ini. Dua hal yang sepenuhnya berbeda.
Bahayanya adalah, seseorang bisa merasa aman saja karena melihat profil gennya aman, tetapi tidak sadar bahwa usia biologisnya ternyata sudah jauh melampaui usia KTP-nya. Dan sebaliknya, seseorang dengan risiko genetik tinggi bisa punya usia biologis jauh lebih muda dari rata-rata karena ia tahu dan bertindak lebih awal.
Tiga Hal yang Hanya Bisa Dijawab oleh Tes yang Tepat
- Siapa yang Lebih Akurat Memprediksi Penyakit?
Hillary et al. (2021) dalam Clinical Epigenetics membandingkan keduanya secara langsung pada populasi besar. Hasilnya: pengukuran epigenetik secara independen memprediksi munculnya penyakit kronis utama, termasuk penyakit jantung dan diabetes. Tes epigenetik ternyata jauh lebih akurat dari skor genetik bawaan saja. Alasannya adalah karena epigenetik menangkap kerusakan nyata dari gaya hidup yang sudah berlangsung bertahun-tahun, sesuatu yang tidak bisa dideteksi di tes DNA dasar.
- Apakah Gaya Hidup Sehat Bisa Dibuktikan Secara Molekuler?
Ini pertanyaan yang paling sering diajukan pasien dan jawabannya hanya bisa ditemukan di tes usia biologis. Waziry et al. (2023) dalam Nature Aging meneliti peserta uji coba CALERIE yang menjalani restriksi kalori jangka panjang. Hasilnya mengungkapkan bahwa hasil tes DNA mereka tidak berubah sama sekali (karena memang tidak bisa), tetapi hasil tes epigenetik mereka menunjukkan perlambatan penuaan yang cukup signifikan. Jadi, hanya tes usia biologis yang bisa membuktikan bahwa diet Anda sudah berpengaruh hingga ke tingkat sel atau tidak
- Bagaimana Keduanya Bekerja Bersama?
Ferrucci et al. (2020) dalam Aging Cell menegaskan bahwa longevity medicine yang presisi membutuhkan keduanya dalam urutan yang tepat: tes DNA dasar di awal untuk memetakan kerentanan bawaan dan menyusun strategi pencegahan, lalu tes usia biologis secara berkala untuk mengukur apakah strategi itu benar-benar berhasil dan memperlambat penuaan tubuh.
Tes DNA dasar menunjukkan medan yang harus Anda hadapi. Tes usia biologis menunjukkan seberapa baik Anda menghadapinya.
Apa yang Sebenarnya Anda Butuhkan Hari Ini?
Sebelum memilih tes, tentukan dulu pertanyaannya:
- Ingin tahu risiko penyakit bawaan dan bagaimana genetik Anda merespons nutrisi tertentu? → Tes DNA Dasar. Lakukan sekali, jadikan hasil tes ini sebagai peta jangka panjang untuk tubuh anda.
- Sudah menjalani program kesehatan dan ingin tahu apakah penuaan sel Anda benar-benar melambat? → Tes Usia Biologis. Lakukan berkala, jadikan indikator kemajuan.
Dua alat, dua pertanyaan, dua momen yang berbeda. Jangan beli laporan cuaca kalau yang Anda butuhkan adalah peta jalanan dan sebaliknya.
REFERENCES
- Hillary, R. F., et al. (2021). Epigenetic measures of ageing predict the prevalence and incidence of leading causes of death and disease burden. Clinical Epigenetics, 13(1), 115.
- Waziry, R., et al. (2023). Effect of long-term caloric restriction on DNA methylation measures of biological aging in healthy adults from the CALERIE trial. Nature Aging, 3(3), 248-257.
- Ferrucci, L., et al. (2020). Measuring biological aging in humans: A quest. Aging Cell, 19(2), e13080.
