DNA Kita Bisa Rusak Tiap Hari, Begini Cara Tubuh Memperbaikinya

Tahukah kamu, bahwa DNA  itu layaknya buku panduan operasional tubuh. Cetak biru yang bertugas untuk menginstruksikan setiap sel tubuh untuk berfungsi, bertumbuh, dan beregenerasi. Wajar saja bila kita berpikir bahwa buku sepenting itu pastinya aman dan tidak terganggu. 

Ternyata kenyataannya jauh berbeda. Menurut kajian komprehensif yang diterbitkan oleh Schumacher et al. (2021) di jurnal Nature, setiap sel tubuh manusia mengalami hingga puluhan ribu kerusakan DNA setiap harinya. Buku panduan kita bukan hanya lecek, tetapi malah terkoyak berkali – kali setiap harinya. 

DNA kita “diserang” dari 2 arah, dari luar dan dari dalam tubuh kita. Dari luar tubuh contohnya berupa paparan sinar UV yang terus menerus dan polusi udara yang memutus untaian DNA. Kalau dari dalam tubuh contohnya berupa radikal bebas, yang didapat dari limbah beracun hasil metabolisme mitokondria setiap kali mengubah makanan menjadi energi. Ini merupakan paradoks biologis, proses yang menghidupi Anda sekaligus merusak Anda.

Jika memang kerusakan sebesar itu terjadi setiap hari, mengapa kita masih bisa sehat dan tidak langsung sakit? Ini terjadi karena tubuh kita memiliki sistem perbaikan yang luar biasa canggih, dengan bantuan tiga aktor canggih yang bekerja secara sinergi.

Tubuh kita akan mampu menangani kerusakan harian sebesar apapun itu apabila seluruh rantai komando ini bekerja dengan baik. Dari enzim PARP, dan terutama NAD+ yang melimpah di dalam tubuh kita, karena NAD+ ini adalah bahan bakar yang dibutuhkan oleh enzim Sirtuins.

Artinya, justru ketika kerusakan DNA dalam tubuh makin banyak karena pertambahan usia, bahan bakar untuk memperbaikinya justru menipis. Enzim PARP masih mendeteksi kerusakan. Sirtuins masih ingin bekerja, tetapi itu semua sia – sia karena kadar NAD+ sudah hampir kosong.

Tiga kebiasaan berikut terbukti dapat mempercepat penurunan kadar NAD+

Jika NAD+ habis, apa efeknya? Banyak sekali. Yang paling kelihatan seperti produksi kolagen gagal, yang akhirnya membuat kulit kehilangan elastisitasnya. Dinding pembuluh darah juga dapat mengeras dan menebal. Akhirnya fungsi organ secara keseluruhan menjadi tidak optimal. Inilah mekanisme biologis sesungguhnya di balik penuaan fisik.

Kerusakan DNA setiap harinya merupakan fakta biologis. Selama kita berfungsi sebagai manusia, pastinya kerusakan akan terus terjadi, dan ini normal. Namun, kuncinya di kita, apakah kita ingin mengendalikan kerusakan tersebut, atau tidak. 

Dan itu berarti satu hal: menjaga agar gudang NAD+ tidak kosong.

Penurunan kadar NAD+ di dalam tubuh bukan sekadar alasan di balik kelelahan fisik harian atau memudarnya elastisitas kulit. Kondisi ini secara langsung berdampak pada macetnya proses pemulihan DNA, melemahnya fungsi organ, dan menurunnya ketahanan metabolik seluler. Oleh sebab itu, menjaga agar tubuh tidak kehabisan bahan bakar tidak cukup hanya diatasi dengan tidur lebih lama atau sekadar mengubah pola makan. Strategi preventif yang terukur, terapi pemulihan di tingkat sel, dan pemahaman tentang bagaimana merawat blueprint tubuh menjadi sangat krusial, terutama bagi individu dengan tuntutan performa fisik dan mental yang tinggi setiap harinya.